Minggu, 30 Nov 2025

Filsafat Silek: Antara Alam, Ruh, dan Kearifan Hidup

Administrator Selasa, 14 Oktober 2025 18:08 WIB

Photos: wikimedia - deni dahniel tradisi silek minagkabau


Oleh: Annisa Putri

MINANGKABAU, - Pencak silat Minangkabau berakar kuat pada falsafah Alam Takambang Jadi Guru, alam terbentang adalah sumber pelajaran. Filsafat ini tidak hanya menjadi dasar kehidupan sosial, tetapi juga membentuk pola pikir dalam dunia silek. Setiap gerakan, posisi tubuh, hingga pernapasan pesilat merupakan tiruan dari perilaku alam, kelenturan air, keteguhan batu, dan ketenangan angin.

Menurut Emral Djamal Dt. Rajo Mudo, silek tidak lahir dari kekerasan, melainkan dari perenungan mendalam terhadap alam dan kehidupan. Para guru tuo (pendekar tua) belajar dari cara harimau menyergap mangsa, burung elang mengintai dari kejauhan, atau bambu yang lentur ketika diterpa badai. Semua itu kemudian diolah menjadi gerakan yang efisien, indah, dan penuh makna.

Nilai spiritual silek pun tak kalah kuat. Sebelum berlatih, murid-murid diajarkan niat, doa, dan tata krama kepada guru. Mereka diajarkan bahwa setiap kekuatan fisik adalah amanah, bukan alat kesombongan. Dalam pandangan Minangkabau, silek tidak boleh digunakan untuk merusak, melainkan untuk menegakkan keadilan dan menjaga keseimbangan.

Silek juga memiliki hubungan erat dengan tasawuf, ajaran spiritual Islam yang berkembang di Sumatera Barat sejak abad ke-17. Banyak guru silek yang juga dikenal sebagai ulama atau tokoh agama. Mereka mengajarkan bahwa latihan jasmani harus seiring dengan latihan rohani, tubuh bergerak, hati berzikir. Inilah sebabnya banyak perguruan silek di Minangkabau dimulai di surau, di bawah bimbingan guru yang juga seorang ulama.

"Gerakan silek itu seperti salat, ada disiplin, kesadaran, dan niat suci di dalamnya," ujar Irwan Malinbasa, seorang pewaris silek tradisi Harimau Nan Salapan. Kalimat ini menggambarkan kedalaman makna spiritual yang terkandung dalam setiap jurus silek. Ia bukan sekadar bela diri, tetapi jalan menuju kesempurnaan diri.

Filsafat silek menegaskan bahwa manusia harus lentur seperti air, kuat seperti batu, dan bijak seperti angin. Dengan memahami alam dan dirinya sendiri, seorang pesilat belajar menjadi manusia seutuhnya, yang berani tanpa congkak, lembut tanpa lemah, dan kuat tanpa lupa asal.
T#gs
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments