- Home
- Serbaserbi
- Hardiknas dan Jalan Panjang Mewujudkan Pendidikan Bermartabat
Hardiknas dan Jalan Panjang Mewujudkan Pendidikan Bermartabat
relleaseid Rabu, 13 Mei 2026 08:25 WIB
Oleh
Siti Amie, S.Pd
Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei selalu menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah pendidikan bangsa. Pada peringatan inilah publik diajak kembali menengok sejauh mana negara benar-benar menempatkan pendidikan sebagai jalan utama mencerdaskan kehidupan bangsa.
Amanat konstitusi sesungguhnya sangat tegas. Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan bernegara ialah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, Pasal 31 UUD 1945 menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan serta mewajibkan negara membiayai pendidikan dasar. Negara juga diperintahkan mengalokasikan sedikitnya 20 persen anggaran untuk sektor pendidikan.
Besarnya amanat konstitusi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar program pelengkap pembangunan, melainkan fondasi utama masa depan bangsa. Pendidikan yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkarakter, dan mampu membawa negeri ini keluar dari berbagai persoalan sosial maupun ekonomi. Sebaliknya, pendidikan yang lemah akan melahirkan generasi yang rapuh, mudah tertinggal, dan sulit bersaing di tengah perkembangan dunia yang semakin kompleks.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa pendidikan kita masih bergulat dengan berbagai persoalan mendasar. Ketimpangan akses pendidikan masih nyata. Di sejumlah daerah, anak anak harus belajar di ruang kelas yang rusak, kekurangan guru, bahkan menghadapi keterbatasan sarana dasar pembelajaran. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak seluruh rakyat, dalam banyak keadaan justru masih terasa seperti privilese bagi mereka yang memiliki akses ekonomi lebih baik.
Persoalan lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah tingginya angka putus sekolah. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menyoroti tingginya angka anak usia SMA dan SMK yang tidak melanjutkan pendidikan. Banyak di antara mereka terpaksa bekerja lebih awal akibat tekanan ekonomi keluarga. Ketika anak kehilangan kesempatan belajar, yang hilang bukan hanya masa depan individu, tetapi juga potensi besar bangsa di masa mendatang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari persoalan ekonomi masyarakat. Masih banyak keluarga yang harus memilih antara memenuhi kebutuhan hidup sehari hari atau mempertahankan pendidikan anak mereka. Dalam situasi seperti ini, pendidikan akhirnya dipandang sebagai beban biaya, bukan sebagai investasi jangka panjang untuk masa depan.
Di tengah persoalan tersebut, arah kebijakan pendidikan tinggi juga memunculkan kegelisahan baru. Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak sesuai kebutuhan industri memperlihatkan adanya pergeseran orientasi pendidikan yang semakin pragmatis. Pendidikan perlahan dipandang terutama sebagai alat penyedia tenaga kerja bagi pasar.
Padahal pendidikan memiliki fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan industri. Pendidikan adalah ruang pembentukan karakter, penguatan moral, dan pembangunan peradaban. Ketika pendidikan terlalu diarahkan pada logika pasar, maka ada risiko besar manusia hanya diposisikan sebagai instrumen ekonomi, bukan sebagai pribadi utuh yang memiliki akhlak, tanggung jawab sosial, dan visi kemanusiaan.
Jika orientasi pendidikan hanya berfokus pada kebutuhan industri, maka ilmu pengetahuan akan diukur semata dari nilai ekonominya. Program studi yang dianggap tidak menghasilkan keuntungan pasar akan dipandang tidak penting. Padahal suatu bangsa tidak hanya membutuhkan tenaga kerja, tetapi juga membutuhkan pemikir, pendidik, peneliti, budayawan, dan tokoh masyarakat yang mampu menjaga arah moral serta identitas peradaban bangsa.
Karena itu, cita cita Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dibangun dengan jargon generasi unggul. Generasi emas tidak lahir semata dari kemampuan teknis dan kecerdasan akademik, melainkan juga dari kekuatan karakter dan moralitas. Sayangnya, berbagai kasus kekerasan, perundungan, hingga pelecehan seksual di lingkungan pendidikan justru menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita sedang menghadapi krisis nilai yang cukup serius.
Kasus kasus tersebut menjadi alarm bahwa pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan belajar yang aman dan beradab. Sekolah dan kampus seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak, bukan ruang yang justru melahirkan ketakutan maupun trauma bagi peserta didik. Karena itu, pendidikan karakter tidak boleh hanya menjadi slogan dalam kurikulum, tetapi harus benar benar diwujudkan dalam budaya pendidikan sehari hari.
Masalah pendidikan juga tidak bisa dilepaskan dari lemahnya budaya literasi. Pengurangan anggaran perpustakaan di sejumlah daerah berpotensi memperlemah kebiasaan membaca di kalangan pelajar. Padahal literasi merupakan fondasi penting untuk melahirkan generasi yang kritis, kreatif, dan inovatif. Sulit membayangkan lahirnya generasi unggul jika akses terhadap bahan bacaan dan lingkungan belajar yang sehat justru semakin terbatas.
Di sisi lain, persoalan kesejahteraan tenaga pendidik juga belum sepenuhnya terselesaikan. Masih banyak guru honorer yang menerima penghasilan jauh dari layak, padahal mereka memegang peran penting dalam membentuk masa depan bangsa. Ketimpangan kesejahteraan ini bukan hanya menyangkut keadilan bagi guru, tetapi juga berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Kita tentu harus memahami bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah proses membentuk manusia. Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari angka kelulusan atau serapan kerja, tetapi juga dari lahirnya manusia yang beradab, bertanggung jawab, dan memiliki integritas moral.
Dalam konteks inilah Islam menawarkan paradigma pendidikan yang lebih menyeluruh. Islam menempatkan ilmu sebagai jalan kemuliaan sekaligus sarana membangun peradaban. Tujuan pendidikan dalam Islam bukan hanya mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk kepribadian yang utuh dan bertakwa.
Pendidikan Islam mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan tanggung jawab kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia. Dengan landasan itu, pendidikan tidak hanya menghasilkan tenaga profesional, tetapi juga manusia yang memiliki akhlak mulia, kejujuran, kepedulian sosial, dan keberanian menjaga kebenaran.
Sejarah membuktikan bahwa peradaban Islam pernah melahirkan ilmuwan besar di berbagai bidang tanpa kehilangan dimensi moral dan spiritualnya. Pendidikan tidak diarahkan sekadar untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga untuk membangun kekuatan umat dan kemaslahatan manusia secara luas.
Karena itu, momentum Hardiknas seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak boleh kehilangan ruhnya. Negara harus hadir bukan hanya melalui angka anggaran, tetapi juga melalui keseriusan membangun sistem pendidikan yang adil, berkualitas, dan bermartabat. Sebab bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh generasi yang terampil bekerja, tetapi oleh generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki arah hidup yang benar.***(Penulis adalah Praktisi Pendidikan di Kota Dumai)
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments
