- Home
- Serbaserbi
- Kekerasan Anak di Daycare: Buah Sistem Pengasuhan Kapitalistik
Kekerasan Anak di Daycare: Buah Sistem Pengasuhan Kapitalistik
relleaseid Rabu, 29 April 2026 11:06 WIB
Oleh
Siti Amie, S.Pd
Anak seharusnya tumbuh dalam ruang yang aman, penuh kasih, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan. Namun harapan itu kembali runtuh ketika publik dikejutkan oleh kasus dugaan penganiayaan anak di sebuah daycare di Yogyakarta. Puluhan balita, yang semestinya mendapatkan pengasuhan dan perhatian, justru diduga menjadi korban perlakuan tidak manusiawi di tempat yang dipercaya orang tua sebagai ruang aman bagi buah hati mereka.
Kasus ini bukan sekadar insiden tunggal. Temuan bahwa jumlah korban mencapai puluhan anak, dengan dugaan praktik kekerasan yang dilakukan secara berulang, menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian korban masih berusia sangat dini, usia yang belum mampu mengungkapkan apa yang mereka alami. Fakta ini menegaskan bahwa kekerasan terjadi pada kelompok paling rentan, di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan.
Ironisnya, peristiwa serupa bukan pertama kali terjadi. Publik Riau tentu masih mengingat kasus di Pekanbaru beberapa waktu lalu, ketika seorang anak di sebuah daycare menjadi korban kekerasan oleh pengasuhnya. Dalam kasus tersebut, anak bahkan diperlakukan secara tidak layak, diikat dan dibungkam, hingga memicu kemarahan masyarakat setelah rekamannya tersebar luas. Fakta bahwa kasus seperti ini muncul di berbagai daerah menunjukkan bahwa persoalan ini bukanlah kasus lokal, melainkan fenomena yang berulang.
Rentetan peristiwa ini menyisakan pertanyaan besar. Bagaimana mungkin tempat yang dititipkan kepercayaan oleh orang tua justru berubah menjadi ruang yang membahayakan anak. Mengapa kekerasan terhadap anak di daycare terus terjadi, seolah tanpa ada pelajaran berarti dari kasus sebelumnya. Jika tidak segera diatasi secara serius, bukan tidak mungkin kasus serupa akan kembali terulang dengan korban yang terus bertambah.
Di titik inilah, persoalan kekerasan anak di daycare tidak lagi bisa dipandang sebagai kelalaian individu semata. Ia perlu dilihat sebagai bagian dari masalah yang lebih luas, tentang lemahnya sistem perlindungan anak, minimnya pengawasan, serta arah pengasuhan yang semakin bergeser dalam kehidupan modern.
Dalam sistem kehidupan yang bertumpu pada kapitalisme, manusia dipandang sebagai aset ekonomi. Nilai seseorang diukur dari produktivitas dan kontribusinya terhadap perputaran materi. Dalam kerangka ini, perempuan turut didorong untuk masuk ke dunia kerja dengan dalih pemberdayaan. Perempuan diposisikan sebagai tenaga produktif yang memiliki nilai ekonomi, sehingga semakin banyak perempuan direkrut untuk bekerja di berbagai sektor.
Namun di balik narasi pemberdayaan tersebut, terdapat persoalan mendasar yang sering diabaikan, yakni pengasuhan anak. Ketika ibu harus bekerja di luar rumah, muncul kebutuhan akan pihak lain yang menggantikan perannya dalam merawat anak. Di sinilah daycare hadir sebagai solusi praktis yang ditawarkan oleh sistem.
Dengan meningkatnya kebutuhan ini, daycare berkembang menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Ia tidak lagi sekadar tempat penitipan, tetapi berubah menjadi industri jasa yang menawarkan berbagai program unggulan. Mulai dari pengenalan bahasa asing hingga stimulasi kecerdasan sejak dini. Daycare dipasarkan secara menarik, ditempatkan di lokasi strategis, dan menyasar keluarga muda yang membutuhkan layanan tersebut.
Namun satu hal yang tidak boleh diabaikan, sebagai bagian dari sistem kapitalisme, orientasi utama daycare tetaplah pada keuntungan. Laba menjadi tujuan yang tidak terpisahkan dari operasionalnya. Dalam kondisi seperti ini, kualitas pengasuhan berpotensi dikompromikan, terlebih jika pengawasan lemah dan standar tidak ditegakkan secara serius.
Lebih dari itu, daycare pada hakikatnya tidak dapat menggantikan peran ibu. Pengasuhan bukan sekadar aktivitas menjaga, tetapi proses membangun kedekatan emosional yang mendalam. Anak membutuhkan kasih sayang yang tulus dan konsisten, sesuatu yang secara fitrah dimiliki oleh seorang ibu. Dalam ruang daycare yang harus menangani banyak anak sekaligus, kebutuhan individual ini sulit terpenuhi secara optimal.
Kasih sayang memiliki peran penting dalam perkembangan anak. Ia bukan hanya kebutuhan emosional, tetapi juga berpengaruh terhadap perkembangan otak dan kepribadian. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang yang cukup akan memiliki rasa percaya diri, kemampuan berempati, dan kestabilan emosi. Sebaliknya, kekurangan kasih sayang dapat menumbuhkan perasaan tidak aman, rendah diri, dan kesulitan dalam membangun relasi sosial.
Di sinilah pentingnya mengembalikan cara pandang terhadap anak. Selama ini, tidak sedikit orang tua yang memandang anak sebagai aset masa depan. Anak didorong untuk berprestasi dan sukses secara materi agar kelak dapat menjadi penopang kehidupan orang tua. Cara pandang ini secara tidak langsung membentuk orientasi pendidikan dan pengasuhan yang berfokus pada capaian duniawi semata.
Akibatnya, anak didorong masuk ke berbagai sistem pendidikan sejak usia sangat dini, termasuk daycare, dengan harapan mendapatkan keunggulan kompetitif. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang tua, khususnya ibu, merasa perlu bekerja agar mampu membiayai pendidikan yang dianggap terbaik. Dalam proses ini, pengasuhan justru terdelegasikan kepada pihak lain.
Padahal dalam Islam, anak adalah amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Ia bukan sekadar aset duniawi, melainkan ladang amal bagi orang tua. Dengan kesadaran ini, pengasuhan anak menjadi prioritas utama yang tidak bisa digantikan begitu saja.
Islam menempatkan ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Dari tangan ibulah nilai-nilai dasar kehidupan ditanamkan. Kasih sayang, kejujuran, empati, dan ketakwaan tumbuh dari interaksi yang intens antara ibu dan anak. Peran ini tidak dapat dijalankan secara optimal jika waktu dan perhatian ibu terpecah oleh tuntutan lain.
Untuk itu, Islam juga menetapkan sistem yang mendukung terlaksananya fungsi keibuan. Nafkah menjadi tanggung jawab ayah dan keluarga, bahkan negara memiliki kewajiban untuk menjamin kesejahteraan perempuan dalam kondisi tertentu. Dengan jaminan ini, ibu dapat fokus menjalankan perannya tanpa harus terbebani oleh tekanan ekonomi.
Ketika fungsi keibuan berjalan optimal, anak akan tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih. Ia tidak hanya berkembang secara fisik dan intelektual, tetapi juga memiliki fondasi moral dan spiritual yang kuat. Inilah yang menjadi benteng utama dalam mencegah berbagai bentuk penyimpangan, termasuk kekerasan dalam pengasuhan.
Kasus kekerasan di daycare seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Ia bukan sekadar tragedi yang berlalu, tetapi cermin dari persoalan yang lebih dalam. Sudah saatnya kita tidak hanya bereaksi, tetapi juga melakukan refleksi. Apakah sistem yang ada saat ini benar-benar mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. Ataukah justru menjauhkan anak dari hakikat pengasuhan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban bukanlah daycare, melainkan orang tua. Oleh karena itu, sudah saatnya peran sebagai pendidik utama dikembalikan kepada ibu, dengan dukungan sistem yang benar. Tanpa itu, harapan menghadirkan generasi yang kuat dan berintegritas akan terus menghadapi tantangan yang sama, bahkan mungkin lebih berat di masa yang akan datang.
Seiring kesadaran ini, sudah saatnya pula kita mengevaluasi sistem yang ada. Akankah peran dan tanggung jawab ibu mampu tertunaikan dengan sempurna dalam sistem kapitalisme saat ini? Tidakkah terbuka mata kita mana sistem yang lebih baik dan layak untuk kita perjuangkan bersama?
(Penulis adalah praktisi pendidikan di Kota Dumai)
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments
