Minggu, 30 Nov 2025
  • Home
  • Serbaserbi
  • Seni Pertunjukan dan Perfilman, Cara Qboy Merawat Budaya dan Tradisi.

Seni Pertunjukan dan Perfilman, Cara Qboy Merawat Budaya dan Tradisi.

antaranusa123 Rabu, 02 Juli 2025 14:47 WIB

Meranti - Semilir angin sore itu, terasa lembut menyentuh kulit. Di ufuk barat, langit jingga mulai mempertontonkan keanggunannya. Bagaikan cermin raksasa, Sungai Perumbi terlihat tenang dan sesekali memantulkan sinar mentari yang hampir tenggelam dalam dekapan malam. Deruan mesin kapal terdengar nyaring, hilir mudik membawa penumpang. Membawa orang dan kendaraan, melintasi sungai Perumbi. Maklum, Jembatan Panglima Sampul yang menghubungkan dua desa yakni, Desa Gogok Darussalam dan Desa Alai, beberapa waktu lalu ambruk, sehingga akses penyebrangan Kempang menjadi alternatif utama bagi masyarakat. 

Usai menyeberangi Sungai Perumbi, aku langsung tancap gas menuju rumah yang dituju. Tokoh muda yang inspiratif dan memiliki segudang prestasi. Saipul Rizan namanya. Di rumah permanen berwarna ungu, deretan penghargaan terbingkai rapi di sejumlah bagian rumah, seakan menyambut kedatangan ku di sore itu. Saipul Rizan atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan panggilan bang Qboy itu, merupakan seorang guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Alai. Dia mengabdikan diri, sejak tahun 2003 silam. Sama-sama memiliki jiwa pendidik, istri bang Qboy, yakni kak Yanti, juga berprofesi sama dan kini menjabat sebagai kepala sekolah, di SDN 3 Desa Batang Malas, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Kepulauan Meranti, Riau. Mereka hanya memiliki satu anak lelaki yaitu Afdel Lasmana yang kini berusia 14 tahun dan sedang menimba ilmu agama di Pondok Pesantren.

Selain mengabdikan diri di dunia pendidikan, Qboy juga aktif di dunia seni, dan menjadi penggagas berdirinya Sanggar Kepurun. Sanggar yang terbentuk pada tahun 2012 itu, menjadi wadah bagi anak tempatan, mengenal beragam kesenian, mulai seni tari, seni musik hingga perfilman. Selain memiliki kecintaan di dunia seni, sanggar tersebut ia dirikan untuk menyalurkan minat dan bakat, generasi muda tempat dia bermukim.    

"Sanggar Kepurun berdiri pada tahun 2012, di sana banyak seni yang diajarkan, mulai dari seni tari tradisi, seni tari kreasi, perfilman dan seni musik," ujar Qboy. Sabtu (26/04/25).

Selain piawai memainkan dan mengajarkan alat musik, serta kesenian lainnya, ternyata Qboy juga peduli dengan setiap unsur yang berbau kearifan lokal. Hal itu terlihat jelas, pada penamaan sanggarnya, yakni Sanggar Kepurun. Kepurun merupakan makanan khas Meranti yang terbuat dari tepung sagu. Bentuknya seperti Papeda (Makanan khas Papua). Biasanya kepurun dinikmati dengan masakan asam pedas ikan, khas melayu. 

"Saya sengaja memilih nama kepurun ini karena, selain merupakan makanan khas Meranti yang terbuat dari sagu, namun banyak nilai yang terkandung di dalamnya, bagaimana orang dahulu cerdas dalam hal bertahan hidup. Lihai mengolah sagu menjadi bahan pangan. Tak hanya kepurun, namun beragam jenis olahan makanan khas lainnya yang  mempunyai cita rasa tersendiri, serta masih dikenal dan eksis hingga saat ini," terang Qboy.  
 
Nama Kepurun yang memiliki filosofi mendalam, menjadi alasan, akhirnya Qboy menamai sanggarnya  dengan nama tersebut. Di Sanggar Kepurun sudah banyak pencapaian yang dihasilkan oleh Qboy dan anak-anak sanggar. Mulai dari pencapaian seni tari, seni musik bahkan di bidang perfilman. Namun sebagai penggiat seni yang memiliki jiwa pendidik, berdirinya sanggar tersebut merupakan wujud kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar, terutama mencegah terjadinya kasus kenakalan remaja, salah satunya penyalahgunaan narkotika. Keberadaan sanggar kepurun diharapkan mampu menjadi wadah bagi generasi muda, melakukan kegiatan positif, sehingga mampu membentuk generasi muda yang berkarakter. Sebuah mimpi mulia dari jiwa seorang pendidik. 

Kecintaan terhadap dunia seni, mengantarkan Qboy hingga merambah ke dunia perfilman. Tahun 2012 merupakan awal dirinya tertarik dengan dunia film. Untuk menyalurkan keinginannya itu, Qboy mulai mengumpulkan anak-anak yang mempunyai hobi serupa di sanggarnya. Meski tanpa pengalaman di dunia film, namun dengan semangat dan tekad yang kuat mampu mengalahkan segalanya. Mulai belajar secara otodidak, Qboy mempelajari teknik pembuatan sebuah film di sela-sela waktu luangnya setelah mengajar.
 
"Awalnya saya hanya coba-coba. Namun tanpa pengalaman dan minimnya literasi terkait dunia film, sempat menjadi hambatan. Tapi, semakin lama dijalani semakin tertarik dan banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya dapatkan," Ujar pria yang dulunya menjadi personil band, yang sempat bermimpi menjadi seorang musisi.

Setelah mulai menggarap sebuah film, ternyata dia sadar, dari film ini banyak sekali yang bisa dipelajari, mulai cara menyutradarai, teknis pengambilan gambar yang baik, agar hasilnya terlihat profesional. Tak hanya itu, peran pencahayaan atau lighting, juga memiliki peranan penting dalam menghasilkan sebuah karya yang bagus. 
Perang aktor juga menjadi hal terpenting dalam sebuah film. Seorang aktor harus menjiwai perannya dalam berakting, dan mendalami setiap peran yang diberikan. 

"Film pertama yang kami buat berjudul, Bakung Ditepi Tasik, tahun 2015," sebutnya. 

Qboy mengaku, niatnya membuat film bukan sekedar karena ingin dikenal banyak orang, tetapi ia ingin memberikan edukasi kepada para penonton. Belajar menghasilkan sebuah film bukanlah hal mudah, banyak tantangan yang dia rasakan, mulai dari kesulitan mendapatkan referensi, karena sulitnya akses internet kala itu. 

"Dulu kalau mau mencari referensi film, kami harus berjam-jam di warnet (warung internet), namun tantangannya, terkadang jaringan internetnya bagus, tak jarang juga kerap mengalami gangguan," ujar Qboy kembali mengingat masa lalu.

Setelah belajar secara otodidak, hingga mencari referensi lewat internet,
akhirnya menjelang 2015 baru ia mengerti teknis pembuatan film yang baik dan benar, setelah bekerjasama dengan sejumlah Mahasiswa Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Mereka datang dari Pekanbaru, dan membantu proses pengambilan gambar dan produksi film Bakung di Tepi Tasik.

"Film Bakung Di Tepi Tasik dilakoni oleh semua anak-anak sanggar. Disanalah kami belajar tentang produksi film, mulai dari membaca skrip, reka adegan, teknik pengambilan gambar, proses editing, dan masih banyak lagi yang kami pelajari terkait perfilman," terangnya lagi. 

Dalam memproduksi sebuah film, Qboy hanya melibatkan anak-anak sanggar. Jika ada orang luar yang ingin menjadi aktor, hanya bermain sebagai pemeran pembantu. Hal tersebut dilakukan guna mempermudah proses syuting. 

"Yang paling kuat memegang skrip itu anak-anak sanggar dan itu salah satu manfaat dari sanggar yang saya buat. Hal utama yang saya lakukan adalah memahami karakter setiap anak," sambung Qboy.

Tantangan lainnya dalam menyutradarai sebuah film, menurut Qboy adalah bagaimana memilih orang tepat. untuk mengisi suatu peran. Mood dari setiap pemeran menjadi hal penting dan menjadi kunci keberhasilan dalam memainkan sebuah karakter dalam film yang dibuat. 

"Meminta orang untuk berakting itu susah-susah gampang. Kalau orang itu mau maka proses kedepan akan mudah. Namun  jika tidak mau, jangan dipaksakan, karena saat proses syuting akan sulit untuk diarahkan," terangnya lagi.

Dalam menghasilkan sebuah karya, keberadaan peralatan menjadi faktor penting, mulai dari kamera, lighting, perangkat audio, hingga perangkat komputer untuk proses editing. Serta masih banyak properti dan peralatan yang dibutuhkan, untuk memproduksi sebuah film, namun yang paling penting dari semua perangkat tersebut adalah kekompakan. 

Membuat film ini adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan secara bersama-sama, dan tidak bisa dikerjakan sendirian. Jadi di dalam membuat film ada yang namanya tahap menulis skrip, dan membedah skrip terkadang kalau malas untuk membedah skrip, Qboy lebih memilih berdiskusi dengan rekan pemeran film tersebut  

"Sebenarnya yang namanya film itu berasal dari satu pemikiran, kemudian pemikiran itu disebarkan kepada teman-teman yang lain. Kalau orang buat skrip langsung bedah ide, tapi saya malas menghadapi itu, lalu saya langsung mengumpulkan teman-teman untuk berdiskusi saja.," jelasnya. 

Berkat kegigihannya, hingga saat ini sudah banyak film yang dia hasilkan, mulai dari Bakung Ditepi Tasik (2025), Aral (2017), Dalam Sangka (2021), Papas (2022), Rumah Diujung Kampung (2022), Serentak Cermin (2023) dan masih banyak lagi. Film Rumah Diujung Kampung adalah film yang menceritakan tentang Pulau Padang, yang diangkat dari sebuah cerpen, sedangkan film Serentak Cermin dimainkan oleh anak-anak Sonde.

Dari semua film yang diproduksinya, film Bakung Ditepi Tasik adalah film yang paling membekas di ingatan Qboy. Pasalnya lokasi pengambilan gambar jauh, di Tasik Nambus, dengan perjalanan yang menantang. 

"Waktu itu, kami menempuh perjalanan dari Alai menuju ke Lalang memakai transportasi berupa mobil pickup dan menginap selama 4 hari di Kampung Merindang, Desa Tanjung Darul Takzim," ceritanya. 

Dari sejumlah karya yang dihasilkannya, Qboy mengaku sudah banyak mengikuti sejumlah ajang perlombaan baik secara online, maupun lomba film yang digelar Pemerintah Provinsi Riau. Beberapa judul film yang ia lombakan diantaranya, Rumah Diujung Kampung pada tahun 2022 yang berhasil meraih juara pertama dan film Seretak Cermin produksi tahun 2023, yang berhasil meraih juara harapan 2. Kedua film tersebut mengikuti lomba film, yang di gelar oleh Dewan Kesenian Riau dan Dinas Kebudayaan Provinsi Riau. Selain film-film tersebut, ada satu film yang digarap oleh Qboy di Mekar Delima Kudap, yaitu film bertajuk Gendong yang  merupakan film dokumenter. Sedangkan dua film lainnya, film Bakung Ditepi Tasik dan film Aral mendapatkan penghargaan berupa hak cipta AHK pada tahun 2017.

Dengan segudang prestasi yang sudah diraih, tidak menjadikan Qboy jumawa dan berpuas diri, dia selalu bersemangat menjaga kretifitas. Meski anggota Sanggar Kepurun silih berganti, namun sanggar tersebut, selalu diisi dengan sejumlah aktivitas, seperti latihan musik dan teater yang digarap langsung oleh Qboy hingga digarap oleh anak-anak sekolah dan remaja. Namun saat ini, Qboy hanya fokus menggarap film, karena biaya produksi film dan teater itu hampir sama,  perbedaannya adalah, produksi seni teater ini butuh waktu lebih lam ketimbang film.

"Kesulitan lain yang kami alami adalah soal biaya produksi. kalau support teman-teman dan kepala desa itu oke, maka akan berjalan lancar," ujar Qboy.

Selain menggarap film, Qboy dan Sanggar Kepurunnya juga aktif di bidang kesenian tradisi, seperti tarian joget sende, gendang panjang dan dodoi atau yang biasa disebut dengan nyanyian untuk menidurkan anak. Seni tradisi itu sengaja diajarkan agar terus lestari, ibarat pusaka yang harus tetap terjaga keasliannya. Ada prinsip yang selalu ia jaga, bahwa setiap kita harus peduli tentang sebuah tradisi. Sebab tradisi itu adalah akar atau ciri khas kita. Siapapun orangnya, dari ras manapun dia. Hal itulah  menjadi salah satu alasan dirinya mendirikan sanggar Kepurun, supaya tradisi tidak hanyut ditelan zaman dan generasi muda di kampungnya bisa aktif berkesenian.

"Modernisasi itu boleh, tapi asal tidak mengesampingkan atau menghilangkan tradisi kita," sebutnya bangga. 

Qboy berpandangan, dalam sebuah karya seni, banyak edukasi yang diajarkan di dalamnya, bukan hanya sekedar hiburan semata, namun butuh kecerdasan dan keseriusan dalam diri pelaku seni, dalam menghasilkan sebuah karya seni. Jadi dalam berkarya itu harus disiplin dan dewasa, serta tidak melupakan budaya dan tradisi.

"Semakin mantap tradisi kita, semakin berbudaya kampung kita. Namun semakin lupa kita dengan tradisi kita, maka semakin tak berbudaya kampung kita. Jadi rawatlah tradisi itu, sebab tradisi itu adalah akar dimana kita berasal. karena jati diri kita adalah sebuah tradisi," terang Qboy. 

Dibalik semangatnya mengangkat budaya dan tradisi, lewat persembahan seni, hingga produksi film, Qboy hanya berharap, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, selalu memberikan ruang, bagi pelaku-pelaku seni seperti dirinya, baik dari sisi fasilitas atau aktif menggelar perlombaan, guna memotivasi pelaku-pelaku seni yang ada di kota hingga ke pedalaman Meranti, untuk terus berkreasi.

Salah satu mimpi Qboy yang belum terwujud, adalah dia berharap kedepan gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) itu sebagai tempat edukasi seni dan budaya, tempat bermusyawarah dan berkarya. Disitu juga anak-anak bisa mempresentasikan  karya yang mereka buat.

"Saya berharap kedepan gedung LAMR mampu menjadi wadah untuk bermusyawarah atau sharing tentang budaya dan terus menggali tradisi dan filosofinya," pungkasnya.**
T#gs
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments