Jumat, 18 Okt 2019
  • Home
  • antaranusa
  • Dirut Bulog Budi Waseso Melawan Menteri hingga Kartel Beras Subsidi

Dirut Bulog Budi Waseso Melawan Menteri hingga Kartel Beras Subsidi

Rabu, 07 Agustus 2019 06:46 WIB
NASIONAL, - Budi Waseso bak berteman karib dengan kontroversi. Di manapun dia berada, selalu ada hal kontroversial yang mengikuti. Tak heran ia populer dengan panggilan Buwas, yang merupakan akronim namanya, sekaligus menggambarkan karakternya yang 'buas'.

Pensiunan jenderal bintang tiga ini kerap bertindak berani tanpa tedeng aling-aling. Sejak di kepolisian, BNN, Bulog, hingga Pramuka, ada saja yang membuatnya disorot publik. Terbaru, dia berseteru dengan Mensos Agus Gumiwang Kartasasmita terkait pengelolaan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Buwas mengancam mundur sebagai Dirut Bulog jika BPNT dikelola Kemensos.

Belakangan Mensos Agus mengabulkan permintaan Buwas dan menyerahkan 70 persen pengelolaan BPNT kepada Bulog. Buwas pun tak jadi mundur.

Selasa (16/7), kami menemui Buwas di kantor Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, untuk membahas BPNT dan serba-serbi tentang dirinya. Selayaknya para pembantu Presiden lain, Buwas mengenakan kemeja putih lengan panjang. Di kantong kemejanya tersemat kartu bertuliskan Dirut Bulog plus foto diri. Sedangkan di dada sebelah kanan, Buwas memasang pin logo Pramuka warna ungu.

Kami memulai pertanyaan dengan membahas soal implementasi BPNT setelah diserahkan ke Bulog. Buwas menyebut Bulog sudah siap menyalurkan BPNT, tinggal koordinasi dengan kepala dinas kewilayahan, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yakni BRI, BNI, dan Mandiri, serta e-warung.

Nah, sekarang yang suplai koordinatornya adalah Bulog. Nah, Bulog terus monopoli juga tidak. Tapi kan kita bisa kontrol dan kita memberikan alternatif kepada penerima BPNT. Apa alternatifnya? Bahwa kita menyiapkan banyak ada beras jenis medium dengan premium, ya kan. Nah, kita siapkan jenis medium 3 jenis, premium juga 3 jenis dengan harga yang berbeda.

Masyarakat bisa memilih, dia mau milih harga yang berapa. Karena dia berhak mendapatkan harga yang Rp8.600. Sekarang kita kasih alternatif ada yang lebih murah. Mulai Rp8.300, Rp8.400, dia mau pilih yang mana. Atau dia mau beli premium harga Rp10.000 atau Rp9.000, terserah. Nah, di situ juga dia bisa memilih.

Berasnya ada uji tanak. Uji tanak itu nanti di situ di e-warung kita siapkan rice cooker mini dari jenis-jenis beras itu. Jadi, kalau dia mau beli beras A, dia bisa nyoba, "oh rasanya kayak gini". Beras B, C, yang kayak gini. Nanti dia tinggal memutuskan. Berarti ada pilihan yang selama ini mungkin dia tidak ada pilihan. Sekarang kita kasih pilihan.

Mengapa Anda ngotot meminta BPNT harus dikelola Bulog?

Oh iya. Yang pertama itu negara. BPNT ini kan programnya pemerintah, programnya negara. Bulog adalah pemerintah dan negara. Kita juga menyerap beras-beras petani dalam negeri untuk cadangan pemerintah. Nah ini kan harus disalurkan untuk program-program pemerintah.

Yang kedua, saya ingin memecah kartel, menghentikan kartel-kartel pangan khususnya beras yang selama ini dia menguasai. Dan saya kan harapnya besar, tapi satu per satu lah, ya. Artinya selama ini, negara tidak bisa apa-apa karena kekuasaan pasar itu dikuasai oleh kartel-kartel ini. Secara umum.

Jadi, mereka mau mempermainkan harga beras, kondisi beras, terserah mereka. Hari ini mulai saya kikis, dengan cara salah satunya BPNT. Jadi bukan hanya BPNT, karena pasar ini harus kita kuasai dengan apa? Semua yang berkaitan dengan pemerintah negara itu harus diatur, dikuasai oleh negara.

Nanti, TNI/Polri itu berasnya juga dari Bulog. Supaya apa? Kita sudah menyerap beras dari petani, harus kita salurkan. Iya gak? Nah, ini juga supaya masalah ketahanan pangan terjamin, pasar terjamin, ketersediaan terjamin, kualitasnya terjamin. Itu yang paling penting.

Bagaimana caranya Bulog mengawasi dan memastikan semua lancar? Mengingat BPNT di daerah juga banyak yang bermasalah.

Ya, selama ini kan bermasalah karena memang kita juga tidak dilibatkan. Ya kan, kita juga gak tahu. Karena itu kan dibebaskan. Yang katanya itu beras dari Bulog, padahal kita enggak, gak suplai. Tapi begitu ada masalah, "ini berasnya Bulog", nah nanti seolah-olah ini dulu saya mengambil dari Bulog.

Nah, untuk supaya tidak masalah, mendingan sekalian aja kita ambil alih. Jadi kalau jelek, baik-buruknya, sudah jelas Bulog. Kan begitu, ya. Nah di situ, sambil saya ingin ikut menata kembali juga, gitu.

Anda ditunjuk Presiden membongkar mafia pangan, tapi giliran sudah terbongkar diminta untuk tidak gaduh. Komentar Anda?

Ya gini, bukan soal gaduhnya. Karena pada saat itu, konsentrasi Satgas Pangan atau kepolisian itu pada kepentingan untuk menghadapi pemilu. Nah, akhirnya tenaga kepolisian tersedot ke sana. Maka kan tidak fokus.

Yang penting adalah kita sudah dapat dulu. Mafia-mafia itu sudah dapat. Artinya dihentikan dulu, setelah selesai pemilu ini kan jalan. Siapa yang menjalankan? Satgas Pangan, kepolisian. Kalau kita men-support data, men-support informasi.

Dulu di kepolisian Anda disebut membuat gaduh. Jadi 'membuat gaduh' itu hobi atau bagaimana?

Oh, salah. Jadi gini, saya tidak pernah membuat gaduh. Gaduh itu orang yang memperbuat atau yang mengartikan gaduh. Saya ini sebenarnya ingin melakukan yang benar. Saya menunjukkan kebenaran. Di kepolisian juga begitu.

Waktu itu di Bareskrim, saya kan menunjukkan kebenaran. Bagaimana saya bilang satu institusi atau lembaga sehebat apapun lembaga ini, manakala, kita bicara oknum, manakala dipegang oleh manusia yang bermasalah, maka institusi ini akan bermasalah. Nah, dulu saya membuktikan bahwa ada institusi kuat yang hebat dipegang oleh orang-orang yang bermasalah.

Saya buktikan, ya kan. Dan terbukti kan. Dulu saya dibilang mengkriminalisasi. Mana bukti mengkriminalisasi saya? Semua P21 kok. Tapi kan kebijakan Pak Presiden dideponering, selesai. Ya kita harus hormat karena itu ketentuan UU juga.

Enggak papa. Tapi kan saya tidak pernah membuat masalah. Dibilang gaduh, mana gaduh? Yang gaduh kan orang-orang yang salah. Dia tidak nyaman. Sama di kala saya terus pindah ke BNN. Dibilang bikin gaduh lagi. Bukan bikin gaduh, saya kerjain bener, memberantas mafia-mafia ini, mafia ini tidak nyaman.

Risikonya Anda jadi banyak musuh?

Itu konsekuensi, risiko seorang pejabat, yang pejabat itu tidak mencari popularitas. Tapi, dia harus bertanggung jawab akan amanah yang diemban.

Apa yang membuat Anda berani bersikap tegas tanpa tedeng aling-aling? Apa prinsip Anda dalam bekerja?

Kebenaran. Kebenaran adalah segala-galanya bagi saya. Saya lahir dari aparatur negara. Ayah saya TNI Angkatan Darat, ngajarinnya bener. Saya jadi kepolisian, aparatur negara, juga abdi negara. Seorang abdi negara itu tugasnya adalah mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk negara dan bangsanya. Jadi tidak boleh takut, tidak boleh mengeluh, tidak boleh berharap untuk kepentingan pribadi.

Dari kepolisian terus ke BNN, lalu Bulog, itu kan bidangnya beda-beda. Dari institusi penegak hukum sampai ke bidang ekonomi. Apalagi sekarang Anda juga menjabat sebagai Kakwarnas Pramuka yang sifatnya sosial. Bagaimana beradaptasinya? Bagaimana belajarnya?

Belajar sudah pasti. Penyesuaian sudah pasti, karena memang bukan bidangnya. Tapi pegang prinsip di dunia ini apapun bisa selama manusia itu mau. Ya kan?

Nah, juga didasari apa? Bangga kepada diri kita masing-masing. Tanpa kebanggaan, kita tidak punya semangat.

Berapa lama Anda butuh penyesuaian? Mengingat biasanya saat dipindah tugas, selalu ada hal besar yang harus Anda selesaikan. Sedangkan Anda mungkin belum tahu, belum kenal juga mana yang baik dan tidak baik.

Ya, penyesuaian tergantung. Enggak bisa kita target sekian lama. Yang penting tadi, kemauan dan rasa tanggung jawab karena didasari dengan satu kebanggaan. Sekarang apa enggak saya bangga? Sudah pensiun, negara masih membutuhkan saya untuk mengabdikan diri kembali setelah pensiun dari kepolisian.

Ya itu suatu hal yang luar biasa bagi saya. Bukan untuk kesombongan, tidak. Karena ini amanah. Allah atau Tuhan yang menghendaki saya melaksanakan tugas pengabdian yang berikutnya.

Selama ini, apa yang membuat amarah Anda terpicu?

Hal-hal yang sifatnya sudah berkali-kali diingatkan apalagi melakukan pelanggaran-pelanggaran prinsip yang seharusnya orang sudah tahu. Tidak perlu dia langgar karena sudah tahu. Tidak perlu diingatkan karena sudah berkali-kali, itu yang membuat saya, bukan emosional ya, saya harus bertindak tegas. Itu harus.

Mana yang paling berkesan antara di Polri, BNN, Bulog, atau Pramuka?

Bagi saya semua tantangan, membekas, pasti ada nilai-nilai tersendiri. Di kepolisian ada nilai-nilai yang saya alami, di BNN beda, di sini beda. Di Pramuka beda. Semua ada kesan buat saya, membekas pasti. Entah bekasnya positif atau negatif tapi pasti kita ada bekasnya.

Kembali soal pangan. Mafia pangan masih eksis, siapa sih yang bermain?

Ya sudah jelas lah itu kan kartel-kartel yang menguasai pasar. Mau bicara apa sekarang? Daging apa ayam. Yang kemarin jatuh itu kan peternak-peternak mandiri, dia enggak punya pangsa pasar. Dia mau jualan, dikunci. Jatuh harganya. Karena apa? Pasarnya sudah diisi sama kekuatan-kekuatan besar ini. Sebenarnya sama saja di makanan di seluruh indonesia, 9 bahan pokok itu dikuasai (kartel).

Kita mau bicara apa? Bawang putih? Bawang putih itu sebenarnya murah tapi dikuasai di sini oleh kartel-kartel bawang putih maka dia yang mengendalikan harga. Coba siapa yang bisa datengin bawang putih terus jual murah? Pasti enggak punya pasar, pasti ada kartelnya. Penguasa. Jelas sekali kok, itu pasti.

Anda kelihatannya sering berseteru dengan Mendag?

O saya tidak berseteru dengan Mendag. Artinya gini, siapapun. Kita bukan berseteru, kita mengingatkan, tugas sebagai abdi negara itu mengingatkan. Apa? Bilamana ada yang menyimpang karena menyimpang ini akan merugikan negara dan bangsa ini.

Mengingatkan bisa saja dengan cara bicara lemah lembut, dengan cara biasa. Ada yang dengan kata-kata keras karena orang itu karakternya memang keras, ada yang mungkin dengan paksa karena karakternya begitu. Tergantung. Jadi saya tidak pernah berseteru sama siapapun tetapi saya sekedar mengingatkan kepada siapapun.

Demi bangsa dan negara ini, saya tidak pernah memilah-milah begitu. Karena semuanya kan manusia, sama. Punya kelebihan dan kekurangan. Siapapun bisa menjadi siapa, menjadi apa. Kan gitu.

Anda dikenal antiimpor, kenapa?

Oo tidak. Salah kalau antiimpor. Karena impor itu pasti ada, kita enggak bisa mandiri betul, karena kan ada pasang surut kebutuhan. Seandainya nih kita bicara beras, hari ini sudah saya buktikan 2 tahun tidak impor karena tataniaga kita atur, betul kan kita bisa.

Tapi bilamana nanti, kita kan enggak tahu alam itu kan Allah yang punya, Tuhan. Tiba-tiba kita masa paceklik panjang, entah diserang hama atau cuaca kan enggak bisa kita lawan. Produksinya menipis cadangannya kecil, kebutuhannya banyak.

Berarti kita harus memenuhi kebutuhan itu kan. Nah kita harus datangkan. Itulah yang namanya impor. Tapi impor sesuai kebutuhan, bukan berlebihan. Maka pangan ini jangan untuk ajang perdagangan.

Karena sembilan bahan pokok itu kebutuhan pokok masyarakat, itu harus dikuasai negara, harus diatur. Bukan untuk ajang bisnis. Di ajang bisnis ini kan menyusahkan masyarakat. Harga diatur, dibiarkan, iya enggak kira-kira? Itu sebenarnya yang saya maksud. Bukan antiimpor.

Yang penting kita tidak berlebihan karena itu merugikan produsen kita. Beras enggak butuh impor, diimpor. Siapa yang kena? Petani. Kerugiannya ke siapa? Petani. Semua kembali ke petani. Nah kita tidak boleh begitu.

Anda optimistis Indonesia bisa melakukan kedaulatan pangan?

Saya sangat optimis bilamana semua berpikir untuk negara dan bangsa ini. Apa yang diperintahkan Presiden Jokowi, ketahanan pangan, kedaulatan pangan, itu bisa tercapai. Saya yakin 1.000 persen bisa tercapai bilamana pembantu-pembantu presiden yang membidangi pangan itu punya pemahaman, pemikiran kepada bangsa dan negara.

Anda melihat saat ini bagaimana?

Ya saya kan mengingatkan itu karena sudah mulai menyimpang, tidak tunduk pada Presiden. Nah saya bagian dari pembantu presiden, mengingatkan sesama pembantu. Jadi kita harus sinergi. Kedaulatan pangan? Ya semua menteri. Kedaulatan pangan emang Menteri Perdagangan enggak terlibat? Menteri Perindustrian enggak terlibat? Menteri Koperasi enggak terlibat? Menteri Agraria atau PU enggak terlibat? Semua terlibat, gitu lho ya. Sampai TNI/Polri juga terlibat.

Contoh satu hal bukti kita tidak sinergi apa? Kejadian beberapa kali. Jagung melimpah, harga turun. Cabe melimpah harga turun, buah naga melimpah, (harga) turun. Bawang merah melimpah, harga turun. Menteri Pertanian di sini berhasil, kalau kita menilai, meningkatkan pertanian produksi.

Tapi jangan dikembalikan lagi ke petani atau Menteri Pertanian disuruh mikir menyerap. Di sini ada Bulog salah satunya yang menyerap. Tapi tidak mungkin mampu Bulog semua. Makanya ada Menteri Perindustrian, mengolah bahan tani jadi bahan jadi untuk ekspor. Bagaimana Menteri Perdagangan menangani itu menjadi komoditi dagang. Atau Menteri Koperasi mengubah itu, mengolah itu menjadi bahan-bahan untuk menjadi komoditi koperasi. Semua harus terlibat gitu lho.

Soal beras Bulog, Anda bisa menjamin kalau beras itu bagus?

Raut muka Buwas berubah, dia menjawab dengan nada tinggi. Tangan kanan dan kirinya bergerak-gerak untuk mempertegas jawaban.

Sudah bagus kok. Hanya image yang dibangun untuk Bulog selalu dibikin negatif. Karena beras yang sudah jelek sudah saya karantina mau saya musnahkan agar tidak keluar. Boleh cek. Jadi beras kemarin yang dulu (ramai) sebenarnya beras yang sudah saya karantina. Tapi dibuka, dilihat kan? Ada yang ngelihat, difoto, diviralkan: ditemukan beras bulog yang tidak layak pakai. Nah padahal memang sudah tidak bergerak, memang sudah tidak layak. Makanya mau kita musnahkan. Tapi ada prosedur kan, kita nunggu surat ijin pemusnahannya. Dari mana? Dari negara. Justru itu. Jadi enggak gampang, rusak terus kita buang, enggak bisa.

Omong-omong, Presiden sedang membentuk kabinet. Kalau Anda ditawari jadi menteri bagaimana?

Begini. Saya lahir dari abdi negara, saya pengabdi jadi saya tidak boleh minta, tidak berharap, tidak ingin. Saya bukan model itu. Kalau negara membutuhkan saya, saya siap. Kalau pak presiden membutuhkan saya, jadi apa aja saya siap. Enggak jadi pun enggak apa-apa. Itulah abdi negara, keikhlasan paling penting. Nothing to lose, ketulusan dalam mengerjakan sesuatu apa pun.

Soal Kopi Jenderal, bagaimana perkembangannya sekarang? Omset berapa?

Nah kalau kita bicara kopi ini sebenarnya pertanggungjawaban. Karena saya berangkatnya dari abdi negara, saya pengabdian. Itu kan program saya, alternative development pada saat BNN, di Aceh. Menghilangkan tanaman ganja dengan mengganti tanaman yang bermanfaat, salah satunya kopi. Begitu tanaman itu jadi, masyarakat sudah mau bertani kopi, atau jagung, berarti masyarakat harus dijamin bahwa itu ada yang beli.

Saya karena memprakarsai dan mendorong masyarakat di Gayo, sampai saya ini diangkat jadi putra Gayo Luwes, maka saya membeli hasil tani. Untuk apa? Ya diolah, saya beli untuk apa wong saya bukan jago apa-apa.

Saya enggak punya keahlian kopi tapi saya belajar karena saya harus mengolah itu. Ya tapi karena di BUMN ini saya tidak boleh merangkap-rangkap, maka saya serahkan kepada kawan saya, kepada adik saya. Saya hanya mengendalikan jarak jauh.

Tapi misi saya bukan mencari keuntungan. Saya ingin meningkatkan derajat martabat petani. Kesejahteraan petani kopi khususnya karena saya ajarin petani itu memproduksi biji kopi yang berkualitas. Maka dengan kualitas bagus, harga tinggi. Dengan harga tinggi, dia akan sejahtera. Karena dia menjual kopi dengan harga tinggi, tidak terus sama tengkulak asal laku, tidak.

Sekarang ini yang mengakui hanya negara Eropa. Prancis, Hungaria, Jerman Timur-Berlin, Amsterdam, itu kopi saya ada. Kopi Jenderal Buwas itu. Nah itu hanya membuktikan itu program saya waktu di BNN jalan.

Anda suka ngopi?

Saya emang suka, suka ngopi dari dulu.

Jadi sudah paham kopi yang bagus dan enggak bagus kayak gimana?

Sebenarnya secara spesifik enggak. Saya hanya ngopi hobi aja sebenarnya. Setelah saya mendalami kopi belakangan ini saya baru tahu nilai kopi itu di mana rasanya. Karena yang ngajari saya adalah ahli kopi dari Italia. Dia ngajarin bagaimana membuat kopi yang benar. Maka kita harus memproduksi kualitas dari hulu ke hilir. Dari penanamannya, proses pemetikannya, pengolahannya sampai pengupasannya, penjemurannya sampai roastingnya harus bagaimana sampai pengemasannya. Itu saya belajar.

Jadi soal Kopi Jenderal ini Anda belajar kopi dan belajar bisnis?

Bisnis saya enggak. Kan saya bukan serta merta untuk bisnis karena saya bukan mencari keuntungan. Tapi saya ingin meningkatkan derajat, martabat, kesejahteraan petani kopi. Saya juga ingin mengangkat produksi indonesia itu hebat lho. Buktinya sekarang saya dapat penghargaan. Nah ini nama bangsa lho bukan nama saya.

Anda kan besanan dengan Pak Budi Gunawan. Tapi sebelum besanan pun Anda sudah dikenal dekat. Seperti apa sebenarnya hubungan Anda dengan Pak BG?

Jadi saya sebenarnya dekat sama siapa saja, terutama atasan saya. Setiap anak buah, kalau di TNI-Polri, harus dekat sama pimpinannya. Karena pimpinannya kan selalu memberikan tugas-tugas kepada anak buahnya. Dan anak buah harus menjalankan segala instruksi atau tugas dari pimpinan dengan baik.

Saya dua kali pernah sama-sama dengan pak BG tugas bareng. Beliau selalu atasan saya. Waktu saya dinas di Propam beliau Kadiv Propam. Saya hanya melaksanakan tugas dengan baik aja. Berusaha baik, belum tentu baik, yang nilai beliau. Begitu beliau jadi Kalemdikpol saya bareng-bareng. Saya tugas di Sespim, sebagai Kasespim. Antara atas dan bawah. Kalau di TNI/Polri harus loyal (bawahan sama atasan).

Nah kebeneran aja Tuhan menjodohkan anak saya dengan anak pak BG, itu urusan lain. Tidak ada hubungannya dengan tadi, tidak ada hubungannya.

Sebagai Kepala BIN, apakah informasi-informasi intelijen dari Pak BG juga masuk ke Anda? Dalam kaitan memecahkan mafia pangan, misalnya?

Oiya, begini. Bukan beliau yang ke saya, saya justru minta bantuan ke beliau. Salah satu keberhasilan saya di sini adalah saya berkolaborasi. Bukan hanya dengan BIN. Kepolisian, TNI, kekuatan-kekuatan lain yang saya punya termasuk BNN. jangan dikira saya lepas dari BNN. saya punya jejaring untuk monitor. Karyawan saya, Bulog, apakah ada terlibat dengan jaringan narkotik? Seperti itu.

Nah saya juga minta dengan Pak KaBIN. Ini lepas dari soal besan ya, tapi tugas. Saya bilang, pak KaBIN, ini ada jejaring yang berkaitan dengan mafia pangan. Mohon bantuan untuk ditelusuri. Informasi dasarnya di sini- di sini. Yang dalami BIN. Saya ke kepolisian juga begitu. Satgas Pangan tolong diawasi bla bla bla. Intelijen polisi juga saya sampaikan. Dari TNI juga saya sampaikan. Kemudian juga saya sampaikan dengan jejaring saya di BNN. tolong awasi masalah ini. Dapat saya.

Itu sebenarnya yang kenapa saya bisa, karena saya selalu bersinergi. Karena tidak ada keberhasilan, apapun namanya tugas, tanpa bersinergi. Enggak ada orang berhasil hidup sendiri. Harus bantuan orang lain.

Nilai-nilai ketegasan yang mendarah daging dalam diri Anda, juga diterapkan ke anak kah?

Pasti karena kita lahir di bumi untuk menjalankan hidup yang bermanfaat. Bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain, syukur untuk negara dan bangsa.

Anda kan sibuk, masih sempat menyalurkan hobi berburu atau otak-atik mobil?

Ya kalau ada waktu dilakukan. Misalnya ada liburan panjang yang bisa kita manfaatkan untuk olahraga atau hobi itu. Enggak harus khusus. Kalau ada waktu senggang manfaatkan aja. Bisa berburu kita berburu, yang deket-deket aja di mana. Jadi enggak terus diatur, enggak akan bisa. Karena waktunya kan padat sekali.

Apa hiburan Anda yang paling mudah dilakukan?

Ya ngotak-atik mobil di rumah, ngotak-atik peralatan di rumah. Memperbaiki apa di rumah, itu. Dan saya kan selalu senang dengan lingkungan saya. Apa yang ada di rumah saya itu, biasanya manfaatkan buat meningkatkan keterampilan sama untuk olahraga. Seperti saya nyuci mobil di rumah, sampai hari ini pun masih saya lakukan. Kalau Sabtu-Minggu saya enggak bisa ke mana-mana, saya nyuci aja.

Terakhir, soal Pramuka. Kemarin pemilihan yang membuat Anda terpilih sebagai Kakwarnas sempat gaduh ya?

Nah saya malah enggak tahu. Saya malah baru tahu karena saya mencalonkan diri atas permintaan teman-teman beberapa di kwarda itu mencalonkan saya sebagai Kakwarnas, saya baru tahu kalau cara pemilihannya seperti itu.

Kakwarnas Gerakan Pramuka, Budi Waseso saat klarifikasi video anak-anak berseragam pramuka teriak ganti presiden di kantor Kwarnas Gerakan Pramuka, Selasa (16/10/2018). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Saya enggak bikin gaduh apa-apa. Saya malah kebingungan, lho kok begini cara pemilihannya gitu lho. Ada kelompok-kelompok, saya malah bingung. Oo begini caranya. Saya belum pernah. Nah makanya saya belajar dari itu, next pemilihan Kakwarnas tidak seperti itu. Karena kita bukan partai, kita pembinaan generasi muda, kita harus fair, kita harus mencalonkan orang yang berkualitas yang dinilai dari seluruhnya, pencalonan dari kwarda-kwarda wilayah yang sudah punya kriteria-kriteria tertentu. Nanti dicalonkan, dipilih, diseleksi. Nanti terbanyak nilai plusnya, 3 besar atau 5 besar, baru kita pilih. Pilihnya boleh siapa saja, fair.

Usai wawancara, kami bersalaman dan mulai membereskan perlengkapan. Buwas masih duduk di kursinya sambil mengobrol santai dengan kami. Tiba-tiba dia menyebut, ada hal lain yang membuatnya setegas dan seberani ini, yakni wartawan.

Saya belajar dari wartawan. Semenjak saya tugas, saya lihat wartawan ini luar biasa ya. Militansinya mengejar narasumber sampai kapanpun harus dapat. Dia tidak akan berhenti kalau belum dapat. Pasti ada rasa bangga sebagai wartawan. Dari bangga, timbul lah semangat. Kalau enggak semangat, semau-maunya kerja. (msn/net/*).
T#gs
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments