Selasa, 16 Jul 2024
  • Home
  • internasional
  • Pilu, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang di Siksa, Perjalanan seorang pekerja Indonesia yang selamat dari 'neraka' di Malaysia

Pilu, Kisah Pembantu Rumah Tangga yang di Siksa, Perjalanan seorang pekerja Indonesia yang selamat dari 'neraka' di Malaysia

Administrator Kamis, 02 Maret 2023 10:30 WIB

Meriance Kabu. F/bbc

LUARNEGERI, MALAYSIA, - Seorang mantan pekerja migran Indonesia yang mengaku mengalami penyiksaan "kejam" lebih dari delapan tahun lalu di tangan majikannya di Malaysia.

Inilah cerita bagaimana dia mencoba bertahan hidup dan upayanya untuk menyelamatkan diri dari tempat yang ia sebut "neraka."

Ia memberikan rincian penyiksaan yang ia alami selama delapan bulan.

Kesaksiannya didukung oleh laporan medis, dokumen pengadilan, cerita sejumlah tetangga, dan petugas kedutaan Indonesia di Malaysia yang melihatnya tak lama setelah diselamatkan.

Setiap kali bangun pagi, Meriance hanya memusatkan pikirannya pada satu hal. Bagaimana ia dapat melewati hari itu.

Wajahnya menghitam karena bengkak akibat hantaman sang majikan.

Dia mengatakan hampir sekujur tubuhnya menjadi sasaran penyiksaan.

Namun, dia mengatakan tidak pernah memikirkan rasa sakit yang tak terkira atas kejadian delapan tahun lalu itu.

Yang ada di benak ibu empat anak asal desa terpencil di Nusa Tenggara Timur itu adalah bagaimana caranya bertahan hidup. Wajah anak-anaknya menjadi penguat untuk bertahan.

Pengadilan Indonesia - yang sudah ingkrah dari Pengadilan Negeri Kupang sampai Mahkamah Agung - menyatakan dua orang, Tedy Moa dan Piter Boki bersalah karena merekrut dan memperdagangkan Meriance Kabu.

Putusan pengadilan menyebutkan Meriance dikirim sebagai "pembantu rumah tangga untuk Ong Su Ping Serene, yang kemudian menyiksanya" yang menyebabkan dia harus dirawat di rumah sakit.

Meriance direkrut dari Desa Poli di Timor Tengah Selatan, kampung terpencil di Nusa Tenggara Timur.

'Agar bisa kasih uang jajan ke anak-anak'

Desa tanpa aliran listrik ini harus ditempuh lebih dari lima jam melalui jalan berbatu besar dari ibu kota provinsi, Kupang.

Untuk mendapatkan air bersih sekalipun, warga desa harus berjalan jauh.

Meriance memutuskan mengikuti tawaran bekerja ke Malaysia untuk membantu ekonomi keluarga yang ia sebut "sangat-sangat kurang."

Ia mengatakan ingin merantau agar "anak-anak tidak nangis lagi minta makanan atau bisa punya uang jajan seperti anak-anak lain."

Suaminya ketika itu bekerja sebagai tukang batu di proyek-proyek bangunan dengan nafkah tak cukup untuk menghidupi empat anaknya yang saat itu masih kecil-kecil.

Bekerja di negeri seberang bahkan sempat membuatnya berani bermimpi "untuk punya rumah sendiri" suatu saat kelak setelah kembali.

Saat tiba di Kupang setelah direkrut dari desa, harapan Meri untuk hidup lebih baik semakin meningkat. Pihak perekrut, kata Meri, membelikannya baju dan keperluan lain.

Namun mereka juga mengambil telepon selulernya, cerita Meri.

Suami dan orang tua Meri mengatakan mereka tak ada kontak lagi setelah dia pergi dari desanya.

Mereka tidak mendengar kabar apapun darinya dari awal April 2014 sampai tanggal 24 Desember tahun itu, saat mereka mendapatkan kabar dari petugas Badan Perlindungan Pekerja Migran, yang menyampaikan berita dari KBRI Malaysia.

"Satu hari menjelang Natal saya mendapat kabar," kata Karfinus Tefa, suami Meri.

"Saya sangat terkejut saat mereka menunjukkan foto Meri di rumah sakit. Saya tidak mengenalinya," kata Karfinus.

Saat Meri tiba di Malaysia pada minggu ketiga April 2014, paspornya diambil agen dan diserahkan ke majikan, kata Meriance.

Pejabat KBRI mengatakan kepada BBC, langkah ini adalah praktik yang biasa dilakukan oleh para pelaku perdagangan manusia.

Namun demikian, Meriance masih bersemangat.

Kepala dihantam ikan beku karena salah taruh daging

Ia dijemput Serene dari tempat penampungan yang ia tak ingat di mana.

Ia mengatakan yang ia ingat adalah perjalanan dengan mobil yang cukup lama untuk tiba di rumah majikannya itu.

Ia juga ingat tiba di Johor Bahru, Malaysia, dari Batam dengan menggunakan perahu kayu bersama sejumlah orang, dan dibawa ke tempat penampungan yang sama.

Tugas utamanya adalah "menjaga nenek", ibu sang majikan, yang saat itu berusia 93 tahun.

Selama sekitar tiga minggu pertama, cerita Meri, ia "diajar cara memasak, membersihkan rumah, lengkap dengan jadwal berapa lama tugas harus diselesaikan."

Selain nenek, kata Meri, ada teman perempuan Serene yang tinggal di rumah susun itu.

Meriance mengatakan mimpi buruknya dimulai setelah beberapa minggu bekerja.

Ia mengatakan pada suatu malam, setelah pulang kantor, Serene tidak menemukan daging di kulkas. Meriance salah meletakkannya di tempat beku.

Meriance mengatakan Serene memanggilnya dan menghantam kepalanya dengan ikan beku.

Kepalanya berdarah. Dan sejak itu, pukulan demi pukulan ia alami setiap hari, kata Meri, tanpa tahu kesalahannya apa.

Ia takut bertanya karena itu berarti semakin banyak pukulan yang akan ia alami.

'Pernah tubuh ditempel setrika panas...  puting susu dijepit tang' - dokumen pengadilan Indonesia

Penyiksaan yang ia alami juga digambarkan dalam putusan pengadilan Indonesia atas dua orang yang dinyatakan bersalah merekrut Meriance.

Dokumen itu menyebutkan, "korban sering mendapat penyiksaan dari majikan menggunakan setrika panas, hamar, pinset, pentungan dan tang."

"Dia dipukul di bagian tangan dan kaki menggunakan hamar, dipukul dengan pentungan pada seluruh bagian tubuh dan bagian wajah hingga tulang hidung patah dan memar."

Satu bagian dokumen menyebutkan Meriance "pernah ditempel ke tubuh dengan menggunakan setrika panas… puting susu dan kemaluan dijepit menggunakan tang lalu ditarik."

Salah satu kuping tak berbentuk karena terus dipukul, kata Meriance. Kuping ini tak bisa diselamatkan karena luka-luka sudah kering saat ia diselamatkan.

Salah satu kuping tak berbentuk karena terus dipukul, kata Meriance. Kuping ini tak bisa diselamatkan karena luka-luka sudah kering saat ia diselamatkan. source bbc. (*).

T#gs
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments