Sabtu, 16 Jan 2021
  • Home
  • internasional
  • Presiden Iran Hassan Rouhani Larang Perusahaan Farmasi Asing Uji Vaksin COVID-19 ke Warganya

Presiden Iran Hassan Rouhani Larang Perusahaan Farmasi Asing Uji Vaksin COVID-19 ke Warganya

Senin, 11 Januari 2021 17:27 WIB

Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei

LUARNEGERI, - Presiden Iran Hassan Rouhani melarang perusahaan asing untuk melakukan uji vaksin COVID-19 terhadap warganya. Hal tersebut ia sampaikan tepat sehari setelah Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei melarang impor vaksin COVID-19 dari Amerika dan Inggris.

"Perusahaan asing mau memberikan kita vaksin COVID-19 sehingga mereka bisa mengujinya kepada warga Iran. Kementerian Kesehatan mencegah hal tersebut," ujar Hassan Rouhani, dikutip dari kantor berita Reuters, Sabtu, 9 Januari 2021.

Rouhani berkata, warganya bukanlah kelinci percobaan, oleh karenanya ia tidak mau mereka menjadi subjek uji vaksin COVID-19. Ia memastikan Iran hanya akan membeli vaksin COVID-19 yang sudah teruji kualitasnya dan bukan hasil produksi Amerika maupun Inggris.

Saat ini, vaksin COVID-19 yang banyak digunakan di dunia adalah produk Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Sinovac. Pfizer, AstraZeneca, dan Moderna adalah perusahaan farmasi asal Inggris dan Amerika sehingga tidak bisa digunakan. Hal itu menyisakan produk vaksin COVID-19 dari Cina yaitu Sinovac.

Cina adalah sekutu dari Iran bersama dengan Rusia. Oleh karenanya, besar kemungkinan Iran hanya akan mengimpor vaksin COVID-19 dari keduanya. Rusia sendiri sudah mengembangkan vaksin yang dinamai Sputnik V. Untuk menambahkan suplai yang ada, Iran bisa memakai vaksin produksi dalam negeri yang masih dalam tahap pengujian.

Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan ia tidak percaya dengan vaksin dari Amerika. Ia menuduh Amerika menjadikan negara lain sebagai bahan uji coba efektivitas vaksinnya. Pemahaman yang ia pakai, jika vaksin COVID-19 buatan Amerika bagus, maka tidak seharusnya Negeri Paman Sam menjadi episentrum pandemi COVID-19.

"Jika Amerika mampu memproduksi vaksin, mereka tidak akan mengalami kegagalan virus corona di negara mereka sendiri," ucap dia.

Iran adalah negara Timur Tengah yang paling terdampak COVID-19. Per berita ini ditulis, mereka mencatatkan 1,2 juta kasus dan 56 ribu kematian. Dalam 24 jam terakhir, kasus dan kematian di sana bertambah 5.924 serta 82 orang. Demikian dilansir tempo. (*).
T#gs
Berita Terkait
Komentar
0 Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments